(Menurut Al-Qur’an, As-Sunnah dan bahaya serta solusi)
1. Manusia itu LEMAH
1) “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)
2) Imam Mujahid rahimahullah berkata: “Manusia lemah jiwa dan semangatnya.” Berkata Thowus rahimahullah: “Mereka lemah menghadapi godaan wanita.” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/267]
2. Manusia itu GAMPANG TERPERDAYA, MELAMPAUI BATAS dan TIDAK BERIMAN
1) “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah” (Q.S Al-Infithar : 6)
2) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.” [QS.al-'Alaq/96:6]
3) “Sesungguhnya (al Qur’an) itu benar-benar dari Robbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” [QS.Hud/11: 17]
4) “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya).” [QS.al-Isro'/17: 89]
5) “Dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.” [QS.al-Mukminun/23: 70]
6) Al Qurthubi rahimahullah berkata: “Manusia melampaui batas berbuat aniaya dan keluar dari ketentuan Allah azza wa jalla.” [Tafsir al-Qurthubi: 6/245]
3. Manusia itu LALAI dan suka berbuat MAKSIAT
1) “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (Q.S At-takaatsur 1)
2) “Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.” [QS.al-Qiyamah/75:5]
3) Ibnu Anbari rahimahullah berkata: “Manusia lebih suka berbuat jahat sepanjang umurnya dan tidak ingin bertobat dari perbuatan dosanya.” [Tafsir Fathul Qodir: 7/362]
4. Manusia itu PENAKUT / GAMPANG KHAWATIR
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah 155)
5. Manusia itu selalu BERSEDIH HATI
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah , hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S Al Baqarah: 62)
6. Manusia itu TERGESA-GESA
1) Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. “Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa” (Al-Isra’ 11)
2) Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Mereka terburu-buru mencari kenikmatan dunia walaupun hanya dapat sedikit, dan lamban mencari akhirat padahal pahalanya cukup besar.” [Tafsir al-Qurthubi/10: 226]
7. Manusia itu SUKA MEMBANTAH
1) “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (Q.S. an-Nahl 4)
2) “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” [QS.al-Kahfi/18: 54]
3) Ibnu Zaid rahimahullah berkata: “Manusia banyak membantah nabinya dan menolak risalah yang dibawanya.” [Tafsir ad-Durul Mansur: 6/376]
8. Manusia itu SUKA BERLEBIH-LEBIHAN dan MELAMPAUI BATAS
1) “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12)
2) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (Q.S al-Alaq : 6)
9. Manusia itu PELUPA
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S Az-Zumar : 8 )
10. Manusia itu SUKA BERKELUH-KESAH dan PUTUS ASA
1) “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20)
2) “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Q.S Al-Fushshilat : 20)
3) “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (al-Isra’ 83)
4) “Pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” [QS.Hud/11 :9]
5) Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah azza wa jalla mengabarkan tabiat manusia, dia itu bodoh lagi menganiaya diri sendiri, tatkala Allah azza wa jalla merasakan kepada mereka kesehatan, rezeki dan punya anak, lalu Allah azza wa jalla mencabutnya, tiba-triba mereka putus asa dan tidak berharap pahalanya.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/278]
11. Manusia itu KIKIR dan MENGKUFURI NIKMAT
1) “Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (Q.S. Al-Isra’ : 100)
2) Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (Q.S. Az-Zukhruf : 15)
3) sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (Q.S. al-’Aadiyaat : 6)
4) “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.” [QS.Saba'/34:13]
12. Manusia itu BODOH
1) “Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [QS.al-An'am/6: 111]
2) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Manusia itu menganiaya dirinya sendiri dan sangat bodoh dengan perintah Allah dan bodoh membawa amanat.” [Tafsir al-Baghowi: 6/380]
13. manusia itu DZALIM dan CURANG
1) “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72)
2) “Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [QS.Ibrahim/14:34]
3) “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholih; dan amal sedikit lah mereka ini.” [QS.Shod/38: 24]
14. manusia itu SUKA MENURUTI PRASANGKANYA
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S Yunus 36)
15. manusia itu SUKA BERANGAN-ANGAN
“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (Q.S al Hadid 72)
Bahaya Mengikuti Sifat Tersebut
Dengan bukti dalil di atas yang menjelaskan berbagai macam tabiat manusia yang buruk, dan kenyataan masyarakat pada umumnya, maka orang yang mengikuti umumnya manusia yang dasarnya hanya perkiraan dan hawa nafsu, pasti berbahaya di dunia dan di akhirat. Adapun di antara bahayanya:
1. Manusia pasti dijauhkan dari ajaran Islam
Karena hawa nafsu pasti tidak menerima ajaran Islam. Silahkan baca QS.al-An’am/6: 116 di atas.
2. Hidup manusia pasti dilanda kesedihan dan kehancuran
“Dan ketahuilah oleh bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan.” [QS.al-Hujuroot/49: 7]
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menuruti kemauan kalian sebelum jelas perkaranya, kalian pasti memperoleh kesulitan, kehancuran dan berlumuran dengan dosa.” [Tafsir al-Qurthubi: 16/314 dan al-Baghowi: 7/339]
3. Penyebab datang musibah dan kebinasaan
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.” [QS.al-Mukminun/23: 71]
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hendaklah kalian waspada kepada perkata yang dikerjakan oleh sebagian manusia, karena mereka membangun akidah atau amalnya berpijak kepada pendapat orang tertentu. Apabila mereka mengetahui dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menyelisihi pendapatnya, mereka memalingkan makna nash tersebut sesuai dengan hawa nafsunya, mereka memaksakan al-Qur’an dan as-Sunnah agar mengikuti kehendaknya, padahal mestinya merekalah yang harus mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka menjadikan selainnya keduanya sebagai imam panutan. Inilah jalannya penyembah hawa nafsu, mereka tidak mengikuti kebenaran, maka Allah mencela mereka dengan QS.al-Mukminun/23:71 (diatas).” [Majmu' Fatawa wa Rosa'il, Ibnu Utsaimin: 3/259]
4. Mereka menjadi budak orang yang berkuasa
Orang yang mengikuti umumnya manusia kebanyakan mereka bodoh, tidak mengenal ajaran Islam, sehingga sandaran mereka berpijak kepada tokoh yang berwibawa, padahal dasar bertindak dari tokoh ini ialah hawa nafsu dan dugaan belaka, sedangkan hawa nafsu selalu berubah, pagi hari lain dengan sore hari, maka dengan kekuasaannya mereka mengajak umat bagaikan bola yang ditendang kesana kemari. Lihat kehidupan orang yang fanatik kepada golongan. Baca QS.as-Saba’/34: 33 Tentang penyesalan mereka pada hari kiamat.
5. Hidup mereka pasti berpecah belah
Setiap manusia memiliki pikiran dan keinginan yang berbeda, sedangkan mereka tidak memiliki pemersatunya. Adapun Islam sebagai satu-satunya pemersatu umat mereka membenci dan menolaknya, mereka hanya bangga dengan hawa nafsu dan golongannya. [Baca QS.ar-Rum/30: 31-32]
6. Mereka pencela Islam dan mengolok-ngolok pengikutnya
“Dan tidak datang seorang rosul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya.” [QS.al-Hijr/15: 11]
Perhatikan orang yang mengandalkan hawa nafsunya, pasti mengolok-ngolok orang yang menyampaikan ajaran Islam dan yang mengamalkannya, dan mendiamkan orang yang berbuat maksiat, bid’ah dan syirik.
7. Hidupnya bagaikan hewan yang dikendalikan oleh hawa nafsunya
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebihsesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [QS.al-Furqon/25: 44]
8. Mereka pasti menyesal
Selagi akal manusia masih sehat, dia pasti menyesal karena mengikuti umumnya manusia, yaitu mereka banyak menipu orang lain untuk kepentingan pribadi dan hawa nafsunya.
“Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.” [QS.asy-Syu'aro'/26: 102]
9. Umumnya mereka ahli neraka
Inilah bahaya yang paling berat bagi orang yang mengikuti umumnya manusia hendaknya mereka waspada bahwa manusia akan dihisab amalnya.
“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Robbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” [QS.Hud/11: 119]
SOLUSI
1. Tetap berpegang teguh kepada tali agama dan petunjuk-petunjuk dari Allah
Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S al-Baqarah : 38)
2. Tetap berada dalam ketaatan sesulit apapun situasi yang melanda
tetap berada dalam ketaatan disini, berarti bersegera menyambut amal-amal kebaikan. Mungkin seperti syair yang dilantunkan Abdullah bin Rawahah untuk mengembalikan semangatnya saat nyalinya mulai ciut di perang mut’ah ketika dua orang sahabatnya yang juga komandan pasukan pergi mendahuluinya. “wahai jiwa, jika syurga sudah di depan mata mengapa engkau ragu meraihnya” pun Allah berfirman “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. Ali Imran : 133)
3. Menjaga keimanan kita
adalah hal yang wajar, iman seseorang naik turun dan berfluktuatif. Sama mungkin seperti yang dikhawatirkan sahabat Hanzalah, ketika ia curhat kepada abu Bakar bahwa ia termasuk orang yang celaka. Mengapa demikian? karena ia merasa Imannya turun ketika jauh dari Rasulullah. Ternyata itu pula yang dirasakan lelaki dengan iman tanpa retak itu. Hinga mereka berdua akhirnya menghadap Rasulullah. Mendengar permasalahn mereka, Rasulullah hanya tersenyum dan menjawab, “selangkah demi selangkah Hanzalah!” Tetapi sungguh, iman seorang mukmin yang baik, akan tetap memiliki trend yang menanjak.
4. Selalu Berjama’ah
manusia itu lemah ketika sendiri dan kuat ketika berjama’ah. Adakah yang meragukannya
Tampilkan postingan dengan label Dialog Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog Agama. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Mei 2014
Selasa, 28 Agustus 2012
Penafsiran atas Gelar Yesus
Berbagai macam gelar "Yesus"
Dikalangan para muridnya, Yesus memperoleh empat gelar utama yaitu : Nabi, Tuhan, Al-Masih (Messias) dan Anak Allah. gelar-gelar ini datang dari orang lain, bukannya muncul dari pernyataan Yesus sendiri.
Dia Seorang Nabi karena memiliki kuasa sehingga mampu menunjukkan mukjizat sebagai tanda atas kenabiannya, yaitu memperoleh ilmu dan keistimewaan lain yang datang dari Tuhan. Namun yang paling penting dari status kenabiannya, sebagaimana juga nabi lain, bukan pada kemampuannya membuat mukjizat, tetapi kepeduliannya pada orang miskin, terhina dan orang yang sesat didalam hidupnya.
Yesus juga sering dipanggil sebagai Tuhan dalam bahasa Yunani, gelar tuhan barangkali mirip dengan istilah gusti atau pengeran dalam bahasa Jawa, memiliki bermacam arti. Gelar ini bisa mengacu pada Tuhan (Allah) sendiri, tetapi bias juga pada tokoh-tokoh politik atau kemasyarakatanyang memang sangat dihormati dan disegani oleh rakyat. Para murid yesus memanggilnya dengan sebutan tuhan karena perannya sebagai hasid (orang suci) kharismatik.
Gelar lain yang diberikan oleh para muridnya, yang gelar ini juga banyak disebutkan dalam Al-Qur'an adalah al-masih (messias, masyiah, kristus) yang secara harfiah adalah "diurapi". di dalam Al-Qur'an sebutan al-masih disebutkan 11 kali, semuanya dalam surat Madaniyah. Al-Qur'an sendiri tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai sebutan al-masih, sebingga muncul berbagai penarfiran dari para ahli. Sebelum Islam datang al-masih memang sudah dikenal di Arab bagian selatan. Di dalam bahasa Ibrani kata mashiah digunakan untuk mengacu pada seorang raja atau "Juru Selamat"yang dinanti-nantikan. kata kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani menjadi "Kristos". jadi, nama al-masih adalah identik dengan nama "Yesus Kristus". bisa juga kata al-masih dikaitkan dengan musaha dalam bahasa arab artinya membasuh atau menyentuh yang secara simbolis-ritual dalam bentuk berwudhu, yaitu membasuh muka untuk mensucikan diri. ada tafsiran lain tentang al-masih misalnya al-razi, yang bermakna pengembara, dikatakan, hampir seluruh umur yesus selalu berkeliling mengembara untuk memberikan khutbah kepada siapa pun yang dijumpainya dengan penuh cinta kasih. kecintaannya kepada orang tertindas inilah yang menimbulkan kemarahan dari Penguasa karena Yesus dianggap sebagai penggerak gerakan subversi. Oleh penganut mistik, kata pengembara lalu diberi konotasi spiritual sehingga kita banyak menemukan literatur tasawuf yang memuji Isa sebagai model Ideal kehidupan zuhud.
Gelar terakhir, yang rumit dan menimbulkan banyak kontroversi adalah Anak Allah. Dalam alam pikiran Yahudi Palestina, istilah "anak allah" dapat mengacu kepada setiap orang dari anak israel atau kepada orang yahudi yang berbudi atau kepada orang yahudi kharismatik yang suci atau raja israel atau kepada messias yang disucikan tuhan. Pada waktu itu jika terdapat anak jahat disebut "anak setan", sedangkan jika anak baik, berbudi, orang menyebutnya Anak Allah. Di dalam literatur Yahudi, pemakaian gelar ini tidak pernah diartikan bahwa orang yang menyandangnya memiliki kualitas Ilahi. oleh karenanya, sepanjang sejarah teologi Kristen maupun dalam mistik Islam, istilah "anak allah", "ruh allah", "ayat allah" selalu saja menimbulkan polemik dan kontroversi karena antara iman dan teologi terdapat jarak yang sulit dijembatani secara logis dan rasional.
Oleh karena itu, kurang bijak apabila kita mempermasalahkan istilah "Yesus" yang menjadi Tuhan umat kristiani/yahudi, apalagi menjadi jurang pemisah antara umat nasrani sendiri dengan umat yang lain, yang wajib kita lakukan adalah saling bertoleran, saling bersilaturahmi antara agama.
Wallahu Alam.
Dialog : Sumber Insani
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, untuk itu
diberikan sumber insani sebagai kelengkapan hidup (kebebasan berkehendak dan
kebebasan berbuat), maka :
1. Manusia muslim harus berwawasan optimistik
2. Hidup bukan sekedar triol dan error, tetapi hidup punya
tujuan yang jelas.
Ulasan :
Pada
hakekatnya, manusia diciptakan oleh allah, mempunyai kedudukan yang paling
mulia dihadapan-Nya, karena dikaruniai oleh berbagai macam keistimewaan berupa
nafsu, keimanan dan akal fikiran, (At-Tiin
: 4), tidak sebatas itu, allah juga memberikan kenikmatan berupa sumber
insani sebagai kelengkapan hidup, semua itu adalah untuk melaksanakan tugas
dengan penuh tanggung jawab sebagai khalifah fil ardhi (Al-Baqarah : 30).
Dengan
kelebihan itu, manusia dihadapkan pada dua pilihan yaitu memilih untuk menjadi
insan yang beruntung/penuh kemuliaan (At-Tiin : 6) atau insan yang rugi/penuh
kesengsaraan (At-Tiin 95 : 5) untuk itu, manusia bebas menentukan
keduanya, dengan cara mereka bisa menentukan/berfikir mana yang menurut mereka
baik (guna mendapatkan karunia) atau mana yang menurut mereka buruk (untuk
menjadi manusia yang rendah), sebab allah tidak akan merubah keadaan mereka
sendiri kecuali mereka sendiri yang merubahnya (Ar-Rad : 11) yaitu dengan mempergunakan sumber insani
beserta segala karunia yang telah diberikan oleh-Nya dengan sebaik-baiknya,
apabila telah menggunakan karunia itu dengan baik, maka selanjutnya manusia
harus hidup harus optimis/tidak boleh pasrah, tidak boleh mengeluh (Al-Ma’arij
: 56) dan berprasangka buruk, dengan kata lain jangan takut untuk berbuat
segala kebaikan dan kebajikan kaitannya dengan tugasnya sebagai khalifah fil
ardhi, karena allah selalu melihat apa yang kita perbuat (Al-Fusilat : 40,
Al-Isra’ : 84).
Disisi
lain, Allah telah memenuhi dunia ini dengan segala isinya serta selengkap-lengkapnya
((An-Nahl: 5-18) untuk itu, akan berdosa besar dan rugi apabila
manusia tidak bisa memanfaatkan bahkan merusak apa yang diberikan dan
dikaruniakan allah untuk manusia, maksud dari Allah adalah agar manusia dapat
bersukur atas apa yang dikaruniakan dan diciptakan oleh-Nya, caranya adalah dengan
selalu beribadah kepadanya, karena tujuan utama kita diberikan kehidupan dan
segala manfaatnya itu tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah SWT
(Az-zariyat : 56).
SALAM
PENGERTIAN DAN HUKUM SALAM
Tanpa melihat pengertian dari berbagai rujukan para ahli sudahlah jelas kiranya dari lafalnya bisa diartikan bahwa salam adalah do'a keselamatan. Pembahasan mengenai salam lebih dari sekedar sopan santun pergaulan, lebih dari itu salam mengindikasikan seseorang yang memulai salam sebagai orang yang berbudi pekerti luhur yang senantiasa mencoba menjalin persaudaraan. Jika melihat ukhuwah Islamiyah-nya jelas merupakan kewajiban sebagai integrasi sosial sesama hamba Allah SWT. Bagaimana hukum salam secara mendasar? Pada asalnya memang sunah bagi orang pertama yang memulai dan wajib bagi mutakallim atau penerima salam untuk membalas salam tersebut. Namun sekali lagi, dari indikasinya sebagai ukhuwah Islamiyah salam bisa menjadi wajib, tidak dimutlakkannya kewajiban salam -tanpa melihat orang pertama atau penjawab- adalah kecenderungan repot, bayangkan saja kalau setiap bertemu seseorang harus salam baik kenal atau tidak kenal. Dengan demikian, maka tindak lanjutnya cukup menjadi kewajiban bagi orang yang menerima salam, itupun seyogyanya di balas dengan doa (salam) yang lebih baik. Jika seseorang mengucapkan Assalamu'alaikum maka hendaklah membalas dengan menambahi sehingga balasanya menjadi Wa'alaikumussalam Warahmatullah, begitu seterusnya, Fastabiqulkhairaat...
LAFAL PENJAWABAN SALAM
Dalam keumuman yang kita dengar, seringkali seseorang menjawab salam dengan WA'ALAIKUM SALAM. Pelafalan seperti ini kuranglah tepat, seharusnya WA'ALAIKUMUSSALAM. Mengapa?
Dari segi hukum baca secara tajwidy itu salah, karena lafal ASSALAM السلام disertai "AL" , hamzah pada lafal AL merupakan hamzah washal yang ketika dibaca washal / tidak waqof menjadi tetap tidak berharakat sehingga mengikuti harakat huruf sebelumnya yaitu Dhamah pada huruf Mim lafal WA'ALAIKUMU.
Jika memang penjawaban salam menghendaki lafal سلام bukan السلام itu juga salah menurut kebahasan. Penggunaan "AL" pada lafal ASSALAM adalah AL yang berfungsi LISTIGHRAQILJINSI (Mencakup semua jenis) sama dengan AL-nya lafal AL-HAMDULILLAH. Maka benar, jika AL-HAMDULILLAH diartikan SEGALA puji. Begitu juga dalam ASSALAM arti kandungannya mencakup doa Semua jenis keselamatan, selamat jiwa, raga, agama, keluarga daaaaaaaaaan semuanya. Mafhumnya bahwa tidak semua lafal yang ma'rifat lebih khusus daripada lafal nakiroh. Terkadang lafal ma'rifat justru lebih luas dari lafal nakiroh seperti dalam lafal ASSALAM dan ALHAMDULILLAH ini.
Jadi mulai sekarang gunakanlah bahasa yang benar dalam menjawab salam dengan WA'ALAIKUMUSSALAM (Pake MUS geto loh...).
Mohon maaf jika ada yang salah, mohon pembenarannya. Karena ini hanya sekadar nganggur yang saya coba sulap menjadi nganggur yang berfaidah. Smoga, amin...
Tanpa melihat pengertian dari berbagai rujukan para ahli sudahlah jelas kiranya dari lafalnya bisa diartikan bahwa salam adalah do'a keselamatan. Pembahasan mengenai salam lebih dari sekedar sopan santun pergaulan, lebih dari itu salam mengindikasikan seseorang yang memulai salam sebagai orang yang berbudi pekerti luhur yang senantiasa mencoba menjalin persaudaraan. Jika melihat ukhuwah Islamiyah-nya jelas merupakan kewajiban sebagai integrasi sosial sesama hamba Allah SWT. Bagaimana hukum salam secara mendasar? Pada asalnya memang sunah bagi orang pertama yang memulai dan wajib bagi mutakallim atau penerima salam untuk membalas salam tersebut. Namun sekali lagi, dari indikasinya sebagai ukhuwah Islamiyah salam bisa menjadi wajib, tidak dimutlakkannya kewajiban salam -tanpa melihat orang pertama atau penjawab- adalah kecenderungan repot, bayangkan saja kalau setiap bertemu seseorang harus salam baik kenal atau tidak kenal. Dengan demikian, maka tindak lanjutnya cukup menjadi kewajiban bagi orang yang menerima salam, itupun seyogyanya di balas dengan doa (salam) yang lebih baik. Jika seseorang mengucapkan Assalamu'alaikum maka hendaklah membalas dengan menambahi sehingga balasanya menjadi Wa'alaikumussalam Warahmatullah, begitu seterusnya, Fastabiqulkhairaat...
LAFAL PENJAWABAN SALAM
Dalam keumuman yang kita dengar, seringkali seseorang menjawab salam dengan WA'ALAIKUM SALAM. Pelafalan seperti ini kuranglah tepat, seharusnya WA'ALAIKUMUSSALAM. Mengapa?
Dari segi hukum baca secara tajwidy itu salah, karena lafal ASSALAM السلام disertai "AL" , hamzah pada lafal AL merupakan hamzah washal yang ketika dibaca washal / tidak waqof menjadi tetap tidak berharakat sehingga mengikuti harakat huruf sebelumnya yaitu Dhamah pada huruf Mim lafal WA'ALAIKUMU.
Jika memang penjawaban salam menghendaki lafal سلام bukan السلام itu juga salah menurut kebahasan. Penggunaan "AL" pada lafal ASSALAM adalah AL yang berfungsi LISTIGHRAQILJINSI (Mencakup semua jenis) sama dengan AL-nya lafal AL-HAMDULILLAH. Maka benar, jika AL-HAMDULILLAH diartikan SEGALA puji. Begitu juga dalam ASSALAM arti kandungannya mencakup doa Semua jenis keselamatan, selamat jiwa, raga, agama, keluarga daaaaaaaaaan semuanya. Mafhumnya bahwa tidak semua lafal yang ma'rifat lebih khusus daripada lafal nakiroh. Terkadang lafal ma'rifat justru lebih luas dari lafal nakiroh seperti dalam lafal ASSALAM dan ALHAMDULILLAH ini.
Jadi mulai sekarang gunakanlah bahasa yang benar dalam menjawab salam dengan WA'ALAIKUMUSSALAM (Pake MUS geto loh...).
Mohon maaf jika ada yang salah, mohon pembenarannya. Karena ini hanya sekadar nganggur yang saya coba sulap menjadi nganggur yang berfaidah. Smoga, amin...
Langganan:
Postingan (Atom)